Sabtu, 16 Mei 2020

Kata Tugas



KATA TUGAS

Kata tugas juga termasuk kelas kata, ya, Sahabat Cerdas Berbahasa. Lanjutan dari kelas kata pada postingan sebelumnya, sih. Hanya saja kelas kata ini ada perbedaan dibandingkan kelas kata yang telah kita bahas sebelumnya, nih, teman-teman. Kata tugas ini tidak punya makna leksikal, cuma punya makna gramatikal. Artinya, kata tugas ini bisa punya makna jika digabung dengan kata lain menjadi frase atau kalimat. Simak yuk pembahasan lebih lanjutnya.

Kata tugas, berdasarkan peranannya dalam frase atau kalimat, dibagi menjadi lima kelompok, yaitu (1) preposisi, (2) konjungsi, (3) interjeksi, (4) artikula, dan (5) partikel penegas. Berikut penjelasannya.

1.      Preposisi (Kata Depan)

Preposisi juga disebut kata depan. Preposisi terletak di depan kategori atau kelas kata lain (terutama nomina). Pada umumnya, kata depan dipakai untuk menjelaskan pertalian kata. Kata depan terdiri atas:

a.       Preposisi tunggal, seperti di, ke, dari, pada, selama, mengenai, dan sepanjang.

b.      Preposisi majemuk, seperti daripada, kepada, oleh karena, sampai ke, sampai dengan, selain dari, dan sebagainya.

 

2.      Konjungsi (Kata Hubung)

Konjungsi adalah kata yang menghubungkan kata-kata, bagian-bagian kalimat, dan kalimat-kalimat. Menurut posisinya, konjungsi dibagi menjadi dua. Berikut paparannya.

a.       Konjungsi Intrakalimat, yaitu konjungsi yang menghubungkan satuan-satuan kata dangan kata, frase dengan frase, atau klausa dengan klausa. Contohnya agar, jika, kemudian, lalu, oleh karena, biarpun, daripada, dan lain-lain.

b.      Konjungsi Ekstrakalimat, terbagi menjadi:

·         Konjungsi Intratekstual, yaitu konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat atau paragraf dengan paragraf. Contohnya apalagi, bahkan, bahwa, biarpun demikian, oleh karena itu, sekalipun demikian, sekalipun begitu, walaupun demikian.

·         Konjungsi Ekstratekstual, yaitu konjungsi yang menghubungkan dunia di luar bahasa dengan wacana. Contohnya adapun, alkisah, begitu, maka, maka itu, mengenai, syahdan.

 

3.      Interjeksi (Kata Seru)

Interjeksi bertugas mengungkapkan perasaan pembicara. Berdasarkan bentuknya, interjeksi dibedakan menjadi dua sebagai berikut.

a.       Bentuk Dasar, misalnya aduh, aduhai, ah, ahoy, amboi, ayo, ih, mari, oh, wah, sip, wahai, dan lain-lain.

b.      Bentuk Turunan, biasanya berasal dari kata biasa atau penggalan kalimat bahasa Arab. Contoh: alhamdulillah, astaga, brengsek, duhilah, insyaallah, syukur, halo, dan lain-lain.

Berdasarkan perasaan yang diungkapkan, jenis interjeksi dapat diuraikan sebagai berikut.

a.       Interjeksi seruan atau panggilan minta perhatian. Contoh: ahoi, ayo, eh, hai, halo, he, sst, wahai.

b.      Interjeksi keheranan atau kekaguman. Contoh: aduhai, ai, amboi, astaga, asyoi, hm, wah, yahud.

c.       Interjeksi kesakitan dan kesedihan. Contoh: aduh.

d.      Interjeksi kekecewaan dan sesal. Contoh: ah, brengsek, busyet, wah, yaa.

e.       Interjeksi kekagetan. Contoh: lho, masyaallah.

f.       Interjeksi kelegaan. Contoh: nah, syukur, syukurlah, alhamdulillah.

g.      Interjeksi kejijikan. Contoh: bah, cih, cis, hii, idih, ih.

 

4.      Artikula (Kata Sandang)

Artikula dalam bahasa Indonesia adalah kategori yang mendampingi kata nominal. Artikula berupa partikel, sehingga tidak dapat berafiksasi. Bentuk artikula dibedakan sebagai berikut.

a.       Nomina dasar (si kancil, sang dewa, para pelajar)

b.      Nomina deverbal (si terdakwa, si tertuduh)

c.       Pronomina (si dia, sang aku)

d.      Verba pasif dalam kategori konstruksi eksosentris yang berkategori nominal (kaum tertindas, si tertindas)

Subkategori atau jenis artikula dibedakan sebagai beriku.

a.       Artikula yang bertugas untuk mengkhususkan nomina singularis dan bermakna spesifikasi. Artikula ini ialah si, sang, sri, hang, dang.

b.      Artikula yang bertugas untuk mengkhususkan suatu kelompok, yaitu para, kaum, umat.

 

5.      Partikel Penegas

Terdapat empat macam partikel penegas. Berikut paparannya.

a.       Partikel –kah dapat menegaskan kalimat interogatif.

Misal: Hari inikah janjinya?

b.      Partikel –lah, dipakai dalam kalimat imperatif atau deklaratif.

Misalnya: Ambillah barang itu di toko!

c.       Partikel –tah, dipakai dalam kalimat interogatif, namun penanya sebenarnya tidak membutuhkan jawaban.

Misalnya: Apatah artinya hidup ini tanpa dirimu?

d.      Partikel pun hanya dipakai dalam kalimat deklaratif dan penulisannya dipisah.

Misalnya: Yang tidak perlu pun dibelinya.


Sabtu, 02 Mei 2020

Kelas Kata


Halo sahabat cerdas berbahasa, pada postingan sebelumnya kita telah membahas menegenai penggunaan huruf kapital, maka pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai macam-macam kelas kata. Nah ingin tahu selengkapnya? Yuk simak di bawah ini..

  1. Verba (kata kerja)
Verba (kata kerja) adalah kata yang menyatakan tindakan. Fungsi utama verba sebagai predikat atau inti predikat dalam kalimat. Contoh verba yang merupakan predikat terdapat pada kalimat “Pencuri itu lari”. Kata lari adalah predikat. Dalam frasa sedang berdiskusi, kata berdiskusi adalah inti dari predikat.
a.       Bentuk-bentuk Verba
1)      Verba dasar bebas, contohnya duduk, makan, mandi.
2)      Verba turunan, contohnya bernyanyi, menari, makan-makan.
b.      Kategori Verba
1)      Berdasarkan butuh atau tidaknya terhadap objek, verba dibedakan menjadi:
·         Transitif, artinya membutuhkan objek. Contoh: menulis, memberi.
·         Intransitif, artinya tidak membutuhkan objek. Contoh: tidur, jatuh, mandi, terbang.
2)      Berdasarkan hubungan verba dengan nomina
·         Verba aktif, verba yang subjeknya berperan sebagai pelaku. Contoh: petani bertanam padi, saya makan nasi.
·         Verba pasif, verba yang subjeknya berperan sebagai sasaran atau hasil. Contoh: adik dipukul ayah, buku itu terinjak olehku.
Ciri-ciri Verba :
a)      Verba tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti ‘paling’.
b)      Pada umumnya, verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan kesangatan.
c)      Verba umumnya menempati fungsi predikat dalam kalimat.
d)     Dapat didahului oleh kata keterangan akan, sedang, dan sudah.

  1. Adjektiva (kata sifat)
Adjektiva (kata sifat) adalah kata yang memberi keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.
a.       Bentuk-bentuk Adjektiva
1)   Adjektiva dasar, contohnya adil, bagus, bebas, suci.
2)   Adjektiva turunan, contohnya terhormat, insani, besar mulut, keras kepala.
b.      Kategori Adjektiva
1)   Adjektiva predikatif dan atributif
·    Adjektiva predikatif adalah kata sifat yang dapat menempati posisi predikat. Contoh: hangat, sulit, mahal.
·    Adjektiva atributif adalah kata sifat yang mendampingi nomina dalam frasa nominal. Contoh: nasional.
2)   Adjektiva bertaraf dan tak bertaraf
·  Adjektiva bertaraf adalah kata sifat yang dapat berdampingan dengan kata agak, sangat, dan sebagainya. Contoh: pekat, makmur.
·    Adjektiva tak bertaraf adalah kata sifat yang tidak dapat berdampingan dengan kata agak, sangat, dan sebagainya. Contoh: intern, nasional.
Ciri-ciri Kata Sifat :
a)      Kata sifat dapat diberi keterangan pembanding lebih dan paling.
b)      Kata sifat dapat diberi keterangan penguat sangat, sekali, benar, terlalu.
c)      Kata sifat dapat diingkari dengan tidak.
d)     Kata sifat dapat diulang dengan se- nya.
e)      Pada kata tertentu berakhir dengan –er, -(w) i, -iah, -if, dan –al.

  1. Nomina (kata benda)
Nomina atau keta benda adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian.
a.       Bentuk-bentuk Nomina
1)      Nomina dasar, yaitu nomina yang berupa morfem dasar bebas.
Contoh: batu, gunting, kertas.
2)      Nomina turunan, yaitu nomina yang terbentuk dari proses morfologis.
Contoh: keuangan, perpaduan, rumah-rumah, batu-batuan, ketatabahasaan.
b.      Kategori Nomina
1)      Nomina bernyawa dan nomina tak bernyawa
·         Nomina bernyawa dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
Nomina persona terdiri atas (1) nama diri seperti Bambang, (2) kekerabatan seperti ibu, bapak, (3) menyatakan orang atau yang diperlakukan seperti orang seperti tuan, nona, malaikat, (4) nama kelompok manusia seperti Jepang, Eropa, Bali, dan (5) nomina tak bernyawa yang dipersonifikasikan seperti Inggris, DPR.
Nomina flora dan fauna yang memiliki sintaksis, yaitu (1) tidak dapat disubstitusikan dengan ia, dia, atau mereka, (2) tidak dapat didahului partikel si, kecuali flora dan fauna yang dipersonifikasikan seperti si kancil, si kambing.
·         Nomina tak bernyawa dapat dibagi menjadi:
Nama lembaga: DPR MPR, UUD.
Nama geografis: Jawa, utara, hilir.
Waktu: Senin, Januari, pukul 8, sekarang, besok.
Nama bahasa: bahasa Indonesia, bahasa Inggris.
Ukuran atau takaran: kilometer, kali, pikul, goni, lusin, kodi.
Tiruan bunyi: aum, dengung, kokok.
2)      Nomina terbilang dan nomina tak terbilang
Nomina terbilang ialah nomina yang dapat dihitung dan dapat didampingi oleh numeralia seperti kantor, kampung, kandang, buku, pensil, orang.
Nomina tak terbilang ialah nomina yang tidak dapat didampingi oleh numeralia, seperti udara, kemanusiaan, kebersihan, temasuk nama diri dan nama geografis.
Ciri-ciri Nomina :
a)      Dalam kalimat yang predikatnya kata kerja, kata benda cenderung menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap.
b)      Kata benda tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkarnya adalah kata bukan.
c)      Kata benda pada umumnya dapat diikuti oleh kata sifat, baik secara langsung maupun dengan kata penghubung yang.

  1. Pronomina (kata ganti)
Pronomina atau kata ganti ialah kata-kata yang menunjuk, menyatakan, atau menanyakan tentang sebuah substansi dan dengan demikian justru mengganti namanya.
Kategori Pronomina
1)      Kata ganti persona atau kata ganti orang. Contoh: Aku, kamu, dia, mereka.
2)      Kata ganti mandiri. Contoh: diri dan diri sendiri.
3)      Kata ganti petunjuk. Contoh: ini, itu.

  1. Numeralia (kata bilangan)
Kata bilangan atau numeralia digolongkan menjadi:
1)      Induk kata bilangan, misalnya satu, dua, tiga, seratus dan seterusnya.
2)      Kata bilangan tak tentu, misalnya beberapa, segala.
3)      Kata bilangan kumpulan, misalnya ketiga, berlima.
4)      Kata bilangan tingkat, misalnya kedua, kesatu, ketiga.
5)      Kata bilangan pecahan, misalnya dua pertiga, seperdua, seperempat.
  1. Adverbia (kata keterangan)
Kata keterangan adalah kata yang menerangkan (1) kata kerja dalam segala fungsinya, (2) kata keadaan dalam segala fungsinya, (3) kata keterangan, (4) kata bilangan, (5) predikat kalimat, apapun jenis katanya, dan (6) menegaskan subjek dan predikat kalimat.
            Kategori Adverbia
1)      Kata keterangan waktu. Contoh: dahulu, kemarin, hari ini.
2)      Kata keterangan modal. Contoh: memang, ya, agaknya, moga-moga, mari, harus, larangan, bukan, mustahil.
3)      Kata keterangan kalimat kualitatif. contoh: perlahan-lahan, selebar-lebarnya.
4)      Kata keterangan derajat. Contoh: amat, hampir, sangat, kurang.
5)      Kata tekanan. Contoh: kah, gerangan, pula, pun, lah.

Terima kasih.. jangan lupa tinggalkan komentar atau saran ya. Semoga bermanfaat. 

Daftar Pustaka

Lestariyati, Y. Titik. 2014. Cerdas Menghafal Bahasa Indonesia. Tangerang Selatan: Scientific Press.

Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Kajian Morfologi (Bentuk Derivasional dan Infleksional). Bandung: PT Refika Aditama.






Kamis, 30 April 2020

Penulisan Huruf Kapital


         
          Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan Republik Indonesia sebagaimana tercantum dalam poin ketiga Sumpah Pemuda. Oleh karena itu, bahasa Indonesia haruslah diperhatikan dan diutamakan oleh setiap warga negara Indonesia. Di dalam bahasa Indonesia, terdapat banyak sekali kaidah penulisan, salah satunya adalah penggunaan huruf kapital. Penggunaan huruf kapital berperan penting, loh, dalam penulisan sebuah tulisan. Dalam penulisan karya tulis atau cerpen, misalnya. Jangan dianggap ini hal yang sepele ya, apalagi bagi kalian yang mengaku cinta Indonesia. Nah, berikut ini kami paparkan secara singkat penggunaan huruf kapital dalam bahasa Indonesia. Selamat membaca..

Penulisan Huruf
HURUF
KATEGORI
CONTOH
Kapital
Awal nama
Orang: Maudy menangis
           mobil Maudy
Kata ganti Anda :
Menurut kepercayaan Anda
Hubungan kekerabatan :
1. “Kapan Ayah pergi?”
2. Para ibu mengunjungi Ibu Febiola
3. Paket Saudara sudah sampai
Tahun : tahun Kabisat
            tahun Masehi
Bulan : bulan Mei
            bulan Agustus
Hari : hari Senin
         hari Jumat
Peristiwa bersejarah :
1. Perang Badar
2. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
3. Perang Dunia II
Suku : suku Madura
           suku Jawa
Bangsa : bangsa India
Bahasa : bahasa Indonesia
Agama : agama Islam
               agama Hindu
Kitab : Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur
Gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang :
1. Doktor Ira / Dr. Ira
2. Haji Agus Salim
3. Raden Fatah      
(huruf kecil jika tanpa diikuti nama orang)
1. ...ingin menjadi presiden
2. Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?  
Jabatan : Kepala Desa Tokelan
Lembaga : Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Judul Dokumen: Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Miring
Buku : buku Matematika
           buku Sosiologi
Majalah : majalah Femina
Surat kabar : koran Jawa Pos
Nama ilmiah : secara de jure
                     secara de facto
Penulisan Nama Orang
Huruf
Kategori
Contoh
Kapital
Milik
pensil Aini
baju Inayah
Hukum
hukum Newton
hukum Pascal
Kecil
Jenis
mesin diesel
motor honda
ikan mujair
pisang ambon
gula jawa
Satuan
220 volt (kapital jika 220 V)
20 amphere (kapital jika 20 A)
Kata yang bermakna “anak dari”
Abdul Rahman bin Zaini
Fatimah binti Salim
Kata tugas
Ayam Jantan dari Timur

Penulisan Nama Tempat
Huruf
Kategori
Contoh
Kapital
asal
orang Bali
gadis Jawa
geografi
Pulau Kalimantan
Kabupaten Situbondo
Danau Toba
Selat Sunda
Kecil
istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri
...mengambil air di danau
...berada di sebuah pulau terpencil

Susunan Kalimat
Huruf
Kategori
Contoh
Kapital
awal kalimat
Dia membaca buku.
Kita harus bekerja keras.
awal kalimat petikan langsung
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”

        Sekian penjelasan kami tentang huruf kapital. Mohon maaf apabila terdapat kekurangan. Silakan tinggalkan tanggapan Anda di kolom komentar. Terima kasih. Semoga bermanfaat. 

Untuk kesan dan pesan juga bisa kunjungi ig : @al_fauzi619

Daftar Pustaka

Lestariyati, Y.Titik. 2014. Cerdas Menghafal Bahasa Indonesia. Tangerang Selatan: Scientific Press
Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Kemendikbud