Laa takhof
Seperti peluru yang menembus
Tepat di bidikan tertuju
Perih pedih
Seperti terluka, hatiku melepuh
Lebam menghitam
Laa tahzan
Engkau Maha Pengampun sedang aku pendosa
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah tak bernilai
Laa tahzan
Engkau Maha Pengampun sedang aku pendosa
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah tak bernilai
Engkau Maha Kaya sedang aku tak punya apa-apa
Yaa Mujiib..
Aku haus
Hatiku kering kerontang
Ampunan ingin kutampung
Bergetar rasa hati mendengar surat cinta-Mu
Ayat-Mu mengalir bagai air jernih dalam keruhnya hati
Hendak menangis,
Bergetar rasa hati mendengar surat cinta-Mu
Ayat-Mu mengalir bagai air jernih dalam keruhnya hati
Hendak menangis,
sedang airnya telah habis terkikis dosa
CERITA PENDEK
Pucuk Cemara
Sinar mentari mencuri
kesempatan melalui celah jendela kamar memberi aba-aba pada seorang gadis untuk
segera bangun dari tidurnya. Pelukan sinar pagi dilihatnya samar-samar dari
bawah selimut bermotif bintang kecil. Dinding kamar berwarna kuning turut serta
menghangatkan pagi ini. Zaheera melirik sedikit pada penunjuk waktu di dekat
tempat tidurnya. Jarum panjang berada tepat di puncak, sedang ekornya berada di
angka enam. Mata bulat Zaheera terlihat lebih sipit pagi ini. Bulu matanya yang
lentik meninggalkan jejak air mata semalam. Sisa nafas sesenggukan semalam pun
masih terasa di dadanya.
Hari ini hari libur.
Zaheera tidak perlu pergi pagi hari dengan pakaian putih birunya. Suasana kamar
begitu tenang, pikirannya saja yang tak mau berdiam diri sejenak. Diambilnya
segelas air di meja kecil persis di samping tempat tidur. Sedikit membuat
pikiran tenang. Tanpa banyak berdiam lagi, ia pergi ke kamar mandi. Diambilnya
kaos merah muda dan rok jin panjang berwarna hitam lengakap dengan kerudung
mungilnya. Pikirannya mengontrol langkah kakinya keluar kamar. “Kreek” dibukanya pintu kamar.
Dipandangnya lekat-lekat suasana rumah yang membisu. Ruang tamu di bawah tangga
tak sebising semalam. Kakinya mulai menuruni anak tangga pertama.
“Kak, mau kemana?”
suara Najwa menghentikan langkah kedua Zaheera.
“Taman,” jawabnya
singkat. Ia melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga berikutnya, menuju
taman di belakang rumah.
Gesekan besi ayunan
satu-satunya suara yang terdengar oleh indra Zaheera. Menemani lamunannya yang tak bertepi. Bulu matanya memang tak
lagi basah karena air mata tetapi hatinya masih luka. Pikirannya kacau.
Pandangannya payau.
Suara ponsel di kantong
Zaheera membuyarkan lamunannya.
“Assalamu’alaikum, Ra?”
suara Dini menyapa dari balik ponsel.
“Wa’alaikumussalam,” sahut
Zaheera.
“Kamu dimana Ra? Nggak mau ikut gowes sama aku dan
Cahaya?”
“Nggak, Din. Aku pengin sendiri.” Zaheera memutus panggilan.
Suara kebisingan
semalam tidak hanya memekakkan telinga pendengarnya tetapi juga membuat hati
penghuninya patah. Hati remaja seperti Zaheera sudah berkali-kali patah karena
peristiwa serupa. Ini bukan kali pertama malam penuh ketegangan itu terjadi.
Seperti arena tinju saja padahal itu rumah mewah. Ayah dan bunda Zaheera
membuat hatinya luka. Pertengkaran rumah tangga selalu dipertontonkan oleh ayah
dan bunda di hadapan Zaheera, Najwa, dan juga Fahmi. Selalu ada saja masalah yang diperdebatkan
hingga akhirnya menyulap rumah bagai arena tinju. Persoalan yang tak pernah
Zaheera mengerti akar masalahnya, begitupun Najwa, apalagi Fahmi yang masih
berseragam putih merah.
Tiba-tiba pikiran
Zaheera tertuju pada dua adiknya, mereka juga merasakan hal yang sama dengan
Zaheera. Luka, sakit, dan bosan. Langkah Zaheera menuju kamar Fahmi. Dilihatnya
dari celah pintu, Fahmi sedang bermain game bersama Najwa. Zaheera membuka
pintu kamar.
“Dek, nggak lapar?” tanya Zaheera.
“Lapar, kak,” sahutnya.
Jari-jari Fahmi asik
menari di atas stick game. Najwa tak
menjawab, pikirannya terfokus pada layar di hadapannya.
“Kakak ambil makanan
dulu di dapur ya,”
Zaheera bergegas
menuruni anak tangga rumahnya menuju dapur.
“Mbok, bunda belum
pulang?”
“Durung, mbak.”
“Ayah?” timpalnya.
“Sudah mulai semalam
ayah Mbak e belum pulang.” Mbok meletakkan sepiring udang goreng di atas meja
makan. “Mbak Zaheera mau makan?” tanyanya.
“Iya mbok. Fahmi sama
Najwa juga.”
“Mbok ambilkan ya
mbak.”
Zaheera mengangguk.
“Makasih ya, mbok.”
“Inggih, mbak.” Mbok memberikan nampan berisi tiga piring nasi dan
tiga gelas air.
Zaheera menuju kamar
membawa nampan. Ini memang bukan kali pertama ayah dan bundanya meninggalkan
Zaheera dan kedua adiknya di rumah bersama mbok. Setiap kali pertengkaran
terjadi diantara ayah dan bundanya, selalu saja mereka pergi tanpa pamit. Hanya
ada mbok di rumah yang menemani Zaheera dan kedua adiknya. Terkadang hati
lembut Zaheera juga tidak mampu menahan amarah kepada ayah dan bunda. Tapi
lagi-lagi hanya air mata yang dapat mencurahkan isi hatinya. Ia sadar posisinya
di rumah sebagai anak sulung, tidak baik memperlihatkan kesedihan di hadapan adiknya.
“Ayo makan Na, Fah,” ajak
Zaheera.
“Siap, kak,” sahut
Fahmi.
Mereka makan bersama di
kamar berukuran 5x6 berdinding lukisan ironman.
Tiga buah piring berisi nasi dengan lauk udang goreng dan saus tomat serta
tiga gelas air putih menjadi sarapan tiga orang anak pemilik perusahaan makanan
cepat saji.
***
Empat tiga puluh. Matahari
tersipu malu menampakkan batang hidungnya. Zaheera tak pernah ketinggalan
menunaikan solat subuh sebelum pagi datang sempurna. Lantunan tilawah qur’an
terdengar beriringan dengan isak tangisnya. Dilihatnya kamar ayah dan bunda,
tak ada seorang pun. Mereka belum pulang. Hari ini bukan lagi hari libur,
dirinya dan kedua adiknya harus pergi sekolah tepat pukul enam tiga puluh pagi.
Zaheera melipir menuju dapur. Dilihatnya Mbok sibuk berduaan dengan pemanggang
ayam.
“Eh, mbak Zaheera. Ini
untuk sarapan mbak dan adik-adik ya.” Mbok sadar akan kehadiran Zaheera.
Zaheera mengangguk.
“Mbok, bunda kapan ya pulang?” tanyanya.
“Mbok kurang tahu kalau
soal itu, mbak,” sahut si Mbok. Zaheera terdiam.
“Aku ke kamar Najwa
dulu ya, mbok,” pungkasnya.
Zaheera menuju kamar
Najwa. Dibalik daun pintu terdengar lantunan musik mengalir lembut di
telinganya. Berasal dari kamar Najwa.
Harta
yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga.
Dibukanya pintu kamar
olehnya. Najwa berselimut kain tebal biru muda.
“Na, kenapa belum
mandi?” tanyanya.
Najwa bergeming. Menatap
kosong layar gawai di dekatnya.
“Na?” ulangnya.
Najwa menggeleng.
Didekatkannya ujung tangan Zaheera di badan Najwa.
“Na, kamu sakit?” Pertanyaan
Zaheera kali ini tak butuh jawaban pasti Najwa. Suhu tubuh Najwa sudah cukup
menjelaskan bahwa adiknya sedang sakit.
“Kamu nggak perlu sekolah dulu hari ini, ya,”
sarannya.
“Izinnya?” tanya Najwa.
“Kakak yang izinkan ke
wali kelasmu, ya?”
Zaheera keluar menuju
dapur. Mengambil air kompres.
Enam tiga puluh pagi.
Dilihatnya supir telah siap di dalam mobil hendak mengantar dirinya dan Fahmi. Setiap
hari Zaheera dan kedua adiknya selalu diantar-jemput ke sekolah oleh supir.
Kali ini hanya Zaheera dan Fahmi.
Sekolah Zaheera dan
Fahmi bersebelahan. Berbatas sebuah toko alat tulis kecil dan parkiran sekolah.
Sekolah tempat berbeda dengan rumah, Zaheera pun tak mau membawa pikiran
kacaunya di rumah ke sekolah. Fokusnya belajar.
“Assalamu’alaikum, Ra.”
Dini berjalan mengimbangi Zaheera dari depan gerbang sekolah.
“Wa’alaikumsalam, Din.”
jawabnya memaksa senyum.
Mereka berjalan
beriringan masuk kelas. Sejam setelah mengikuti pelajaran, bu Anita memanggil
Zaheera ke ruang guru. Zaheera pun mengikuti bu Anita berjalan ke ruang guru.
“Zaheera, ibu ingin
kamu ikut olimpiade mipa mewakili sekolah. Kamu mau, ya? Ibu yakin kamu bisa,”
ujarnya.
Zaheera terdiam.
“Ra? Gimana?”
“Iya bu, insyaAllah.”
“Kalau kamu bersedia
ikut, besok temui ibu di kantor ya, nduk,”
“Iya, bu,” sahut
Zaheera.
Pukul tiga belas tiga
puluh. Zaheera menunggu jemputan sopir depan gerbang sekolah. Jam pulang Fahmi
satu jam lebih awal daripada Zaheera. Fahmi sudah diantar pulang terlebih dulu.
“Ra, aku duluan ya,
assalamu’alaikum.” Dini sudah dijemput lebih dulu oleh ayahnya. Tidak dengan
kendaraan mewah roda empat. Dini dijemput dengan kendaraan roda dua tua
berwarna merah. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Zaheera. Dilihatnya ayah
Dini mencium pipi Dini. Dini pun mencium tangan ayahnya. Pemandangan yang sudah
lama Zaheera lupakan dalam rumah mewahnya. Ayah yang entah pergi kemana, bunda
yang datang hanya untuk memberi uang padanya dan adik-adiknya. Hanya ada mbok
dan supir di rumah.
“Aku rindu yaa Allah,”
batinnya. Tanpa sadar, matanya telah berkaca-kaca, siap meluncurkan butiran air
lambang kesedihan.
Beberapa menit Zaheera
termenung. Didengarnya suara klakson mobil yang tak asing di telinganya. Pak
sopir datang menjemputnya. Sepanjang jalan menuju rumah, terpikir selalu ayah
dan bunda. Menahan butir air agar tak ada satupun yang lolos.
***
Petang menguasai istana
langit. Bulan bertahta membulat sempurna. Zaheera berbaring di kasur empuknya. Didengarnya
lantunan lagu yang menenangkan sekaligus membuka jendela pikirannya.
Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah
keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah
keluarga. Selamat pagi, Emak. Selamat pagi, Abah. Mentari hari ini berseri
indah. Terima kasih, Emak. Terima kasih, Abah.
Kali ini air matanya tak dapat ia tahan. Satu
lolos. Dua lolos. Banyak lagi yang lolos. Mungkin keluarga Zaheera bukanlah
keluarga hangat dan harmonis seperti yang ada dalam setiap bait lagu yang
didengarnya. Bukan keluarga cemara, tetapi pucuk cemara. Sudah diujung tanduk.
Zaheera tahu harta dan rumah mewah yang ia miliki bukanlah hal pantas untuk ia
banggakan. Harta yang paling berharga memang benar keluarga. Bukan rumah mewah
sebagai istana, namun istana yang paling indah adalah keluarga.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar