Kamis, 16 April 2020

Budaya

PUISI 



Tampungan Ampunan 
Oleh : Daisy Restu Rosalina Al Muslimah 


Laa takhof
Seperti peluru yang menembus
Tepat di bidikan tertuju
Perih pedih
Seperti terluka, hatiku melepuh
Lebam menghitam

Laa tahzan
Engkau Maha Pengampun sedang aku pendosa
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah tak bernilai
Engkau Maha Kaya sedang aku tak punya apa-apa

Yaa Mujiib..
Aku haus
Hatiku kering kerontang
Ampunan ingin kutampung

Bergetar rasa hati mendengar surat cinta-Mu
 Ayat-Mu mengalir bagai air jernih dalam keruhnya hati

Hendak menangis,
 sedang airnya telah habis terkikis dosa



CERITA PENDEK 
Pucuk Cemara
Oleh : Daisy Restu Rosalina Al Muslimah

Sinar mentari mencuri kesempatan melalui celah jendela kamar memberi aba-aba pada seorang gadis untuk segera bangun dari tidurnya. Pelukan sinar pagi dilihatnya samar-samar dari bawah selimut bermotif bintang kecil. Dinding kamar berwarna kuning turut serta menghangatkan pagi ini. Zaheera melirik sedikit pada penunjuk waktu di dekat tempat tidurnya. Jarum panjang berada tepat di puncak, sedang ekornya berada di angka enam. Mata bulat Zaheera terlihat lebih sipit pagi ini. Bulu matanya yang lentik meninggalkan jejak air mata semalam. Sisa nafas sesenggukan semalam pun masih terasa di dadanya.
Hari ini hari libur. Zaheera tidak perlu pergi pagi hari dengan pakaian putih birunya. Suasana kamar begitu tenang, pikirannya saja yang tak mau berdiam diri sejenak. Diambilnya segelas air di meja kecil persis di samping tempat tidur. Sedikit membuat pikiran tenang. Tanpa banyak berdiam lagi, ia pergi ke kamar mandi. Diambilnya kaos merah muda dan rok jin panjang berwarna hitam lengakap dengan kerudung mungilnya. Pikirannya mengontrol langkah kakinya keluar kamar. “Kreek” dibukanya pintu kamar. Dipandangnya lekat-lekat suasana rumah yang membisu. Ruang tamu di bawah tangga tak sebising semalam. Kakinya mulai menuruni anak tangga pertama.
“Kak, mau kemana?” suara Najwa menghentikan langkah kedua Zaheera.
“Taman,” jawabnya singkat. Ia melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga berikutnya, menuju taman di belakang rumah.
Gesekan besi ayunan satu-satunya suara yang terdengar oleh indra Zaheera. Menemani lamunannya  yang tak bertepi. Bulu matanya memang tak lagi basah karena air mata tetapi hatinya masih luka. Pikirannya kacau. Pandangannya payau.
Suara ponsel di kantong Zaheera membuyarkan lamunannya.
“Assalamu’alaikum, Ra?” suara Dini menyapa dari balik ponsel.
“Wa’alaikumussalam,” sahut Zaheera.
“Kamu dimana Ra? Nggak mau ikut gowes sama aku dan Cahaya?”
Nggak, Din. Aku pengin sendiri.” Zaheera memutus panggilan.
Suara kebisingan semalam tidak hanya memekakkan telinga pendengarnya tetapi juga membuat hati penghuninya patah. Hati remaja seperti Zaheera sudah berkali-kali patah karena peristiwa serupa. Ini bukan kali pertama malam penuh ketegangan itu terjadi. Seperti arena tinju saja padahal itu rumah mewah. Ayah dan bunda Zaheera membuat hatinya luka. Pertengkaran rumah tangga selalu dipertontonkan oleh ayah dan bunda di hadapan Zaheera, Najwa, dan juga Fahmi.  Selalu ada saja masalah yang diperdebatkan hingga akhirnya menyulap rumah bagai arena tinju. Persoalan yang tak pernah Zaheera mengerti akar masalahnya, begitupun Najwa, apalagi Fahmi yang masih berseragam putih merah.
Tiba-tiba pikiran Zaheera tertuju pada dua adiknya, mereka juga merasakan hal yang sama dengan Zaheera. Luka, sakit, dan bosan. Langkah Zaheera menuju kamar Fahmi. Dilihatnya dari celah pintu, Fahmi sedang bermain game bersama Najwa. Zaheera membuka pintu kamar.
“Dek, nggak lapar?” tanya Zaheera.
“Lapar, kak,” sahutnya.
Jari-jari Fahmi asik menari di atas stick game. Najwa tak menjawab, pikirannya terfokus pada layar di hadapannya.
“Kakak ambil makanan dulu di dapur ya,”
Zaheera bergegas menuruni anak tangga rumahnya menuju dapur.
“Mbok, bunda belum pulang?”
Durung, mbak.”
“Ayah?” timpalnya.
“Sudah mulai semalam ayah Mbak e belum pulang.” Mbok meletakkan sepiring udang goreng di atas meja makan. “Mbak Zaheera mau makan?” tanyanya.
“Iya mbok. Fahmi sama Najwa juga.”
“Mbok ambilkan ya mbak.”
Zaheera mengangguk.
“Makasih ya, mbok.”
Inggih, mbak.” Mbok memberikan nampan berisi tiga piring nasi dan tiga gelas air.
Zaheera menuju kamar membawa nampan. Ini memang bukan kali pertama ayah dan bundanya meninggalkan Zaheera dan kedua adiknya di rumah bersama mbok. Setiap kali pertengkaran terjadi diantara ayah dan bundanya, selalu saja mereka pergi tanpa pamit. Hanya ada mbok di rumah yang menemani Zaheera dan kedua adiknya. Terkadang hati lembut Zaheera juga tidak mampu menahan amarah kepada ayah dan bunda. Tapi lagi-lagi hanya air mata yang dapat mencurahkan isi hatinya. Ia sadar posisinya di rumah sebagai anak sulung, tidak baik memperlihatkan kesedihan di hadapan adiknya.
“Ayo makan Na, Fah,” ajak Zaheera.
“Siap, kak,” sahut Fahmi.
Mereka makan bersama di kamar berukuran 5x6 berdinding lukisan ironman. Tiga buah piring berisi nasi dengan lauk udang goreng dan saus tomat serta tiga gelas air putih menjadi sarapan tiga orang anak pemilik perusahaan makanan cepat saji.
                                                            ***                                         
Empat tiga puluh. Matahari tersipu malu menampakkan batang hidungnya. Zaheera tak pernah ketinggalan menunaikan solat subuh sebelum pagi datang sempurna. Lantunan tilawah qur’an terdengar beriringan dengan isak tangisnya. Dilihatnya kamar ayah dan bunda, tak ada seorang pun. Mereka belum pulang. Hari ini bukan lagi hari libur, dirinya dan kedua adiknya harus pergi sekolah tepat pukul enam tiga puluh pagi. Zaheera melipir menuju dapur. Dilihatnya Mbok sibuk berduaan dengan pemanggang ayam.
“Eh, mbak Zaheera. Ini untuk sarapan mbak dan adik-adik ya.” Mbok sadar akan kehadiran Zaheera.
Zaheera mengangguk. “Mbok, bunda kapan ya pulang?” tanyanya.
“Mbok kurang tahu kalau soal itu, mbak,” sahut si Mbok. Zaheera terdiam.
“Aku ke kamar Najwa dulu ya, mbok,” pungkasnya.
Zaheera menuju kamar Najwa. Dibalik daun pintu terdengar lantunan musik mengalir lembut di telinganya. Berasal dari kamar Najwa.
Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga.
Dibukanya pintu kamar olehnya. Najwa berselimut kain tebal biru muda.
“Na, kenapa belum mandi?” tanyanya.
Najwa bergeming. Menatap kosong layar gawai di dekatnya.
“Na?” ulangnya.
Najwa menggeleng. Didekatkannya ujung tangan Zaheera di badan Najwa.
“Na, kamu sakit?” Pertanyaan Zaheera kali ini tak butuh jawaban pasti Najwa. Suhu tubuh Najwa sudah cukup menjelaskan bahwa adiknya sedang sakit.
“Kamu nggak perlu sekolah dulu hari ini, ya,” sarannya.
“Izinnya?” tanya Najwa.
“Kakak yang izinkan ke wali kelasmu, ya?”
Zaheera keluar menuju dapur. Mengambil air kompres.
Enam tiga puluh pagi. Dilihatnya supir telah siap di dalam mobil hendak mengantar dirinya dan Fahmi. Setiap hari Zaheera dan kedua adiknya selalu diantar-jemput ke sekolah oleh supir. Kali ini hanya Zaheera dan Fahmi.
Sekolah Zaheera dan Fahmi bersebelahan. Berbatas sebuah toko alat tulis kecil dan parkiran sekolah. Sekolah tempat berbeda dengan rumah, Zaheera pun tak mau membawa pikiran kacaunya di rumah ke sekolah. Fokusnya belajar.
“Assalamu’alaikum, Ra.” Dini berjalan mengimbangi Zaheera dari depan gerbang sekolah.
“Wa’alaikumsalam, Din.” jawabnya memaksa senyum.
Mereka berjalan beriringan masuk kelas. Sejam setelah mengikuti pelajaran, bu Anita memanggil Zaheera ke ruang guru. Zaheera pun mengikuti bu Anita berjalan ke ruang guru.
“Zaheera, ibu ingin kamu ikut olimpiade mipa mewakili sekolah. Kamu mau, ya? Ibu yakin kamu bisa,” ujarnya.
Zaheera terdiam.
“Ra? Gimana?”
“Iya bu, insyaAllah.
“Kalau kamu bersedia ikut, besok temui ibu di kantor ya, nduk,”
“Iya, bu,” sahut Zaheera.
Pukul tiga belas tiga puluh. Zaheera menunggu jemputan sopir depan gerbang sekolah. Jam pulang Fahmi satu jam lebih awal daripada Zaheera. Fahmi sudah diantar pulang terlebih dulu.
“Ra, aku duluan ya, assalamu’alaikum.” Dini sudah dijemput lebih dulu oleh ayahnya. Tidak dengan kendaraan mewah roda empat. Dini dijemput dengan kendaraan roda dua tua berwarna merah. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Zaheera. Dilihatnya ayah Dini mencium pipi Dini. Dini pun mencium tangan ayahnya. Pemandangan yang sudah lama Zaheera lupakan dalam rumah mewahnya. Ayah yang entah pergi kemana, bunda yang datang hanya untuk memberi uang padanya dan adik-adiknya. Hanya ada mbok dan supir di rumah.
“Aku rindu yaa Allah,” batinnya. Tanpa sadar, matanya telah berkaca-kaca, siap meluncurkan butiran air lambang kesedihan.
Beberapa menit Zaheera termenung. Didengarnya suara klakson mobil yang tak asing di telinganya. Pak sopir datang menjemputnya. Sepanjang jalan menuju rumah, terpikir selalu ayah dan bunda. Menahan butir air agar tak ada satupun yang lolos.
                                                            ***
Petang menguasai istana langit. Bulan bertahta membulat sempurna. Zaheera berbaring di kasur empuknya. Didengarnya lantunan lagu yang menenangkan sekaligus membuka jendela pikirannya.  
Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga. Selamat pagi, Emak. Selamat pagi, Abah. Mentari hari ini berseri indah. Terima kasih, Emak. Terima kasih, Abah.

 Kali ini air matanya tak dapat ia tahan. Satu lolos. Dua lolos. Banyak lagi yang lolos. Mungkin keluarga Zaheera bukanlah keluarga hangat dan harmonis seperti yang ada dalam setiap bait lagu yang didengarnya. Bukan keluarga cemara, tetapi pucuk cemara. Sudah diujung tanduk. Zaheera tahu harta dan rumah mewah yang ia miliki bukanlah hal pantas untuk ia banggakan. Harta yang paling berharga memang benar keluarga. Bukan rumah mewah sebagai istana, namun istana yang paling indah adalah keluarga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar