Minggu, 19 April 2020

Feature


Tema : Human Interest

KASIH SEPANJANG MASA

Oleh : Daisy Restu Rosalina Al Muslimah 


Matahari belum sepenuhnya muncul menampakkan diri. Udara segar masih terasa belum tersentuh polusi. Lantunan selawat burdah selepas jamaah salat Subuh di surau menggema dari pengeras suara menunjukkan suasana asli santri di Kabupaten Situbondo. Jalanan masih begitu sepi selepas waktu subuh pergi. Sejauh mata memandang, terlihat seorang wanita tua berpakaian lusuh serta jarik bermotif batik membawa sebungkus plastik besar di punggungnya. Rambutnya yang tidak lagi menghitam berserakan di sekitar keningnya. Ia berjalan begitu pelan sambil menengok-nengok gang di samping jalan.
Wanita yang sedang berjalan itu bernama Suyani berusia 90 tahun. Ia merupakan ibu dari seorang anak. Selama 40 tahun, Suyani atau yang akrab disapa mbah kerupuk bekerja berkeliling kampung menjajakan kerupuk. Warga Kelurahan Mimbaan Kecamatan Panji itu memang menjadi tulang punggung keluarga. Ia harus menghidupi anak tunggalnya yang juga sudah berusia lanjut, berusia 70 tahun. Anaknya bernama Indayanti. Ia memiliki riwayat penyakit jantung. Tidak bisa berlelah-lelah karena penyakitnya sering kambuh. Ia sering terbaring lemas di atas tempat tidur.
Indayanti memang memiliki seorang suami, namun suaminya tidak pernah pulang untuk memberi nafkah padanya. Padahal, kondisi Indayanti sangat tidak memungkinkan untuk bekerja mencari nafkah seorang diri. Indayanti mendapatkan sesuap nasi dan obat dari hasil keringat ibunya, Suyani, bahkan hingga ia lanjut usia. Suyani harus bekerja keras hingga usia tuanya, tepatnya setelah suami tercintanya meninggal dunia.
Ia mengaku bahwa dulunya suaminya berasal dari kalangan orang mampu. Sepetak sawah adalah peninggalan terakhir suaminya. Sertifikat sawah milik suami Suyani telah hilang, dirampas oleh keluarga dari suaminya. Keluarga almarhum suaminya saat ini masih tinggal di rumah besar, berbeda dengan keadaan Suyani dan anaknya saat ini.
Tidak hanya itu, menurut Suyani, dulunya ia memiliki sepetak sawah di pinggiran jalan besar dekat rumahnya, “Kaulâ sabbhen andi’ sabeh bhing ning è Jeru. Tapè samangkèn sobung pon,” tuturnya. Sawah peninggalan almarhum suaminya diambil secara paksa oleh saudara-saudara suami Suyani, tanpa memberikan uang sedikit pun. Hingga kabar mengenai Indayanti, anak Suyani yang sakit pun, tidak ada keluarga dari almarhum suaminya yang datang ke rumahnya untuk sekadar menjenguk.
Menurutnya, semenjak sawah tersebut diambil alih oleh keluarga suaminya itu, berjualan kerupuk dari selepas subuh hingga menjelang waktu zuhur adalah satu-satunya pilihan baginya untuk dapat menyambung hidup. Uang yang diperoleh dari berjualan digunakan untuk menghidupi anak dan dirinya sendiri. Ia juga menambahkan jika ia berangkat lebih siang menjajakan kerupuk, maka ia tidak bisa menjajakan kerupuknya ke warung-warung karena sudah didahului pedagang kerupuk lain. “Alhamdulillah, langghenan kaulâ bânnya’ bhing,” ungkapnya. Akan tetapi, katanya, di musim pagebluk ini dagangannya sepi pembeli. Kerupuk yang ia jual lebih sedikit dari biasanya. Tentunya ini juga mengurangi penghasilan Suyani.
Ia mengaku, biasanya setiap menjelang lebaran, ia mendapat rezeki tambahan tak terduga. Selalu ada saja lembaga wakaf atau tetangga sekitarnya yang memberikan santunan berupa sembako gratis untuk dirinya. Hal tersebut diakui oleh Suyani sebagai nikmat dari Tuhannya karena masih ada orang-orang yang peduli terhadapnya.
Ia juga mengaku ikhlas jika harus terus mencari penghasilan untuk sesuap nasi anaknya hingga masa tuanya. “Engghi, beremma’a polè bhing, anak kaulâ.” ucapnya dengan santai. Perjuangan dan garis wajah Suyani menjadi bukti kebenaran suatu peribahasa, kasih ibu sepanjang masa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar