Matahari belum
sepenuhnya muncul menampakkan diri. Udara segar masih terasa belum tersentuh
polusi. Lantunan selawat burdah selepas jamaah salat Subuh di surau menggema
dari pengeras suara menunjukkan suasana asli santri di Kabupaten Situbondo.
Jalanan masih begitu sepi selepas waktu subuh pergi. Sejauh mata memandang, terlihat
seorang wanita tua berpakaian lusuh serta jarik bermotif batik membawa sebungkus
plastik besar di punggungnya. Rambutnya yang tidak lagi menghitam berserakan di
sekitar keningnya. Ia berjalan begitu pelan sambil menengok-nengok gang di
samping jalan.
Wanita yang sedang
berjalan itu bernama Suyani berusia 90 tahun. Ia merupakan ibu dari seorang
anak. Selama 40 tahun, Suyani atau yang akrab disapa mbah kerupuk bekerja
berkeliling kampung menjajakan kerupuk. Warga Kelurahan Mimbaan Kecamatan Panji
itu memang menjadi tulang punggung keluarga. Ia harus menghidupi anak
tunggalnya yang juga sudah berusia lanjut, berusia 70 tahun. Anaknya bernama
Indayanti. Ia memiliki riwayat penyakit jantung. Tidak bisa berlelah-lelah
karena penyakitnya sering kambuh. Ia sering terbaring lemas di atas tempat
tidur.
Indayanti memang
memiliki seorang suami, namun suaminya tidak pernah pulang untuk memberi nafkah
padanya. Padahal, kondisi Indayanti sangat tidak memungkinkan untuk bekerja
mencari nafkah seorang diri. Indayanti mendapatkan sesuap nasi dan obat dari
hasil keringat ibunya, Suyani, bahkan hingga ia lanjut usia. Suyani harus
bekerja keras hingga usia tuanya, tepatnya setelah suami tercintanya meninggal
dunia.
Ia mengaku bahwa
dulunya suaminya berasal dari kalangan orang mampu. Sepetak sawah adalah
peninggalan terakhir suaminya. Sertifikat sawah milik suami Suyani telah
hilang, dirampas oleh keluarga dari suaminya. Keluarga almarhum suaminya saat ini
masih tinggal di rumah besar, berbeda dengan keadaan Suyani dan anaknya saat
ini.
Tidak hanya itu, menurut
Suyani, dulunya ia memiliki sepetak sawah di pinggiran jalan besar dekat
rumahnya, “Kaulâ sabbhen andi’ sabeh bhing ning è Jeru. Tapè samangkèn sobung
pon,” tuturnya. Sawah peninggalan almarhum suaminya diambil secara paksa oleh
saudara-saudara suami Suyani, tanpa memberikan uang sedikit pun. Hingga kabar
mengenai Indayanti, anak Suyani yang sakit pun, tidak ada keluarga dari
almarhum suaminya yang datang ke rumahnya untuk sekadar menjenguk.
Menurutnya, semenjak sawah tersebut diambil alih oleh keluarga suaminya itu, berjualan
kerupuk dari selepas subuh hingga menjelang waktu zuhur adalah satu-satunya
pilihan baginya untuk dapat menyambung hidup. Uang yang diperoleh dari
berjualan digunakan untuk menghidupi anak dan dirinya sendiri. Ia juga
menambahkan jika ia berangkat lebih siang menjajakan kerupuk, maka ia tidak
bisa menjajakan kerupuknya ke warung-warung karena sudah didahului pedagang
kerupuk lain. “Alhamdulillah, langghenan kaulâ bânnya’ bhing,” ungkapnya. Akan tetapi, katanya, di musim pagebluk ini dagangannya sepi pembeli. Kerupuk yang ia jual lebih sedikit dari biasanya. Tentunya ini juga mengurangi penghasilan Suyani.
Ia mengaku, biasanya setiap
menjelang lebaran, ia mendapat rezeki tambahan tak terduga.
Selalu ada saja lembaga wakaf atau tetangga sekitarnya yang memberikan santunan
berupa sembako gratis untuk dirinya. Hal tersebut diakui oleh Suyani sebagai
nikmat dari Tuhannya karena masih ada orang-orang yang peduli terhadapnya.
Ia juga mengaku ikhlas
jika harus terus mencari penghasilan untuk sesuap nasi anaknya hingga masa tuanya.
“Engghi, beremma’a polè bhing, anak kaulâ.” ucapnya dengan santai. Perjuangan
dan garis wajah Suyani menjadi bukti kebenaran suatu peribahasa, kasih ibu
sepanjang masa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar