Kamis, 30 April 2020

Penulisan Huruf Kapital


         
          Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan Republik Indonesia sebagaimana tercantum dalam poin ketiga Sumpah Pemuda. Oleh karena itu, bahasa Indonesia haruslah diperhatikan dan diutamakan oleh setiap warga negara Indonesia. Di dalam bahasa Indonesia, terdapat banyak sekali kaidah penulisan, salah satunya adalah penggunaan huruf kapital. Penggunaan huruf kapital berperan penting, loh, dalam penulisan sebuah tulisan. Dalam penulisan karya tulis atau cerpen, misalnya. Jangan dianggap ini hal yang sepele ya, apalagi bagi kalian yang mengaku cinta Indonesia. Nah, berikut ini kami paparkan secara singkat penggunaan huruf kapital dalam bahasa Indonesia. Selamat membaca..

Penulisan Huruf
HURUF
KATEGORI
CONTOH
Kapital
Awal nama
Orang: Maudy menangis
           mobil Maudy
Kata ganti Anda :
Menurut kepercayaan Anda
Hubungan kekerabatan :
1. “Kapan Ayah pergi?”
2. Para ibu mengunjungi Ibu Febiola
3. Paket Saudara sudah sampai
Tahun : tahun Kabisat
            tahun Masehi
Bulan : bulan Mei
            bulan Agustus
Hari : hari Senin
         hari Jumat
Peristiwa bersejarah :
1. Perang Badar
2. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
3. Perang Dunia II
Suku : suku Madura
           suku Jawa
Bangsa : bangsa India
Bahasa : bahasa Indonesia
Agama : agama Islam
               agama Hindu
Kitab : Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur
Gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang :
1. Doktor Ira / Dr. Ira
2. Haji Agus Salim
3. Raden Fatah      
(huruf kecil jika tanpa diikuti nama orang)
1. ...ingin menjadi presiden
2. Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?  
Jabatan : Kepala Desa Tokelan
Lembaga : Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Judul Dokumen: Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Miring
Buku : buku Matematika
           buku Sosiologi
Majalah : majalah Femina
Surat kabar : koran Jawa Pos
Nama ilmiah : secara de jure
                     secara de facto
Penulisan Nama Orang
Huruf
Kategori
Contoh
Kapital
Milik
pensil Aini
baju Inayah
Hukum
hukum Newton
hukum Pascal
Kecil
Jenis
mesin diesel
motor honda
ikan mujair
pisang ambon
gula jawa
Satuan
220 volt (kapital jika 220 V)
20 amphere (kapital jika 20 A)
Kata yang bermakna “anak dari”
Abdul Rahman bin Zaini
Fatimah binti Salim
Kata tugas
Ayam Jantan dari Timur

Penulisan Nama Tempat
Huruf
Kategori
Contoh
Kapital
asal
orang Bali
gadis Jawa
geografi
Pulau Kalimantan
Kabupaten Situbondo
Danau Toba
Selat Sunda
Kecil
istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri
...mengambil air di danau
...berada di sebuah pulau terpencil

Susunan Kalimat
Huruf
Kategori
Contoh
Kapital
awal kalimat
Dia membaca buku.
Kita harus bekerja keras.
awal kalimat petikan langsung
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”

        Sekian penjelasan kami tentang huruf kapital. Mohon maaf apabila terdapat kekurangan. Silakan tinggalkan tanggapan Anda di kolom komentar. Terima kasih. Semoga bermanfaat. 

Untuk kesan dan pesan juga bisa kunjungi ig : @al_fauzi619

Daftar Pustaka

Lestariyati, Y.Titik. 2014. Cerdas Menghafal Bahasa Indonesia. Tangerang Selatan: Scientific Press
Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Kemendikbud

Minggu, 19 April 2020

Feature


Tema : Human Interest

KASIH SEPANJANG MASA

Oleh : Daisy Restu Rosalina Al Muslimah 


Matahari belum sepenuhnya muncul menampakkan diri. Udara segar masih terasa belum tersentuh polusi. Lantunan selawat burdah selepas jamaah salat Subuh di surau menggema dari pengeras suara menunjukkan suasana asli santri di Kabupaten Situbondo. Jalanan masih begitu sepi selepas waktu subuh pergi. Sejauh mata memandang, terlihat seorang wanita tua berpakaian lusuh serta jarik bermotif batik membawa sebungkus plastik besar di punggungnya. Rambutnya yang tidak lagi menghitam berserakan di sekitar keningnya. Ia berjalan begitu pelan sambil menengok-nengok gang di samping jalan.
Wanita yang sedang berjalan itu bernama Suyani berusia 90 tahun. Ia merupakan ibu dari seorang anak. Selama 40 tahun, Suyani atau yang akrab disapa mbah kerupuk bekerja berkeliling kampung menjajakan kerupuk. Warga Kelurahan Mimbaan Kecamatan Panji itu memang menjadi tulang punggung keluarga. Ia harus menghidupi anak tunggalnya yang juga sudah berusia lanjut, berusia 70 tahun. Anaknya bernama Indayanti. Ia memiliki riwayat penyakit jantung. Tidak bisa berlelah-lelah karena penyakitnya sering kambuh. Ia sering terbaring lemas di atas tempat tidur.
Indayanti memang memiliki seorang suami, namun suaminya tidak pernah pulang untuk memberi nafkah padanya. Padahal, kondisi Indayanti sangat tidak memungkinkan untuk bekerja mencari nafkah seorang diri. Indayanti mendapatkan sesuap nasi dan obat dari hasil keringat ibunya, Suyani, bahkan hingga ia lanjut usia. Suyani harus bekerja keras hingga usia tuanya, tepatnya setelah suami tercintanya meninggal dunia.
Ia mengaku bahwa dulunya suaminya berasal dari kalangan orang mampu. Sepetak sawah adalah peninggalan terakhir suaminya. Sertifikat sawah milik suami Suyani telah hilang, dirampas oleh keluarga dari suaminya. Keluarga almarhum suaminya saat ini masih tinggal di rumah besar, berbeda dengan keadaan Suyani dan anaknya saat ini.
Tidak hanya itu, menurut Suyani, dulunya ia memiliki sepetak sawah di pinggiran jalan besar dekat rumahnya, “Kaulâ sabbhen andi’ sabeh bhing ning è Jeru. Tapè samangkèn sobung pon,” tuturnya. Sawah peninggalan almarhum suaminya diambil secara paksa oleh saudara-saudara suami Suyani, tanpa memberikan uang sedikit pun. Hingga kabar mengenai Indayanti, anak Suyani yang sakit pun, tidak ada keluarga dari almarhum suaminya yang datang ke rumahnya untuk sekadar menjenguk.
Menurutnya, semenjak sawah tersebut diambil alih oleh keluarga suaminya itu, berjualan kerupuk dari selepas subuh hingga menjelang waktu zuhur adalah satu-satunya pilihan baginya untuk dapat menyambung hidup. Uang yang diperoleh dari berjualan digunakan untuk menghidupi anak dan dirinya sendiri. Ia juga menambahkan jika ia berangkat lebih siang menjajakan kerupuk, maka ia tidak bisa menjajakan kerupuknya ke warung-warung karena sudah didahului pedagang kerupuk lain. “Alhamdulillah, langghenan kaulâ bânnya’ bhing,” ungkapnya. Akan tetapi, katanya, di musim pagebluk ini dagangannya sepi pembeli. Kerupuk yang ia jual lebih sedikit dari biasanya. Tentunya ini juga mengurangi penghasilan Suyani.
Ia mengaku, biasanya setiap menjelang lebaran, ia mendapat rezeki tambahan tak terduga. Selalu ada saja lembaga wakaf atau tetangga sekitarnya yang memberikan santunan berupa sembako gratis untuk dirinya. Hal tersebut diakui oleh Suyani sebagai nikmat dari Tuhannya karena masih ada orang-orang yang peduli terhadapnya.
Ia juga mengaku ikhlas jika harus terus mencari penghasilan untuk sesuap nasi anaknya hingga masa tuanya. “Engghi, beremma’a polè bhing, anak kaulâ.” ucapnya dengan santai. Perjuangan dan garis wajah Suyani menjadi bukti kebenaran suatu peribahasa, kasih ibu sepanjang masa.

Sabtu, 18 April 2020

Berita


SEKOLAH UNIK BERGENGSI RAIH JUARA


Situbondo, Kecamatan Panji - SMPN 5 Panji dengan motto “Unik Bergengsi” berhasil raih juara. Olimpiade yang diadakan oleh Musyawarah Kerja Kepala Sekolah yang disebut MKKS Cup SMP Negeri tahun 2020 menjadi bukti kualitas siswa SMPN 5 Panji. Salah satu siswanya berhasil memberikan sumbangsih berupa prestasi untuk sekolah. Dia adalah Nur Nadhifatus, siswa kelas VIII SMPN 5 Panji yang berhasil meraih juara 3 olimpiade sains IPA tingkat SMP. Nur Nadhifatus sendiri tidak menyangka mampu menyabet juara sebab ada banyak siswa dari sekolah favorit di Kabupaten Situbondo yang ikut dalam event akademik tersebut.
Kepala SMPN 5 Panji, Imam Sujoko, S.Pd.,M.Pd mengaku bangga atas prestasi yang diraih oleh Nur Nadhifatus. Menurutnya, ini menjadi bukti bahwa sekolah berbasis pesantren yang dipimpinnya mampu bersaing dengan lembaga pendidikan favorit lainnya. Imam Sujoko menerangkan bahwa secara fasilitas, SMPN 5 Panji masih memiliki banyak keterbatasan. Akan tetapi, itu bukan alasan untuk tidak mengukir prestasi. “Kami bisa membuktikan. Siswa kami ternyata tidak kalah dengan siswa sekolah lain,” katanya.
Hal yang juga membanggakan, Nur Nadhifatus merupakan siswa dari kalangan keluarga kurang mampu. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya, tidak membuatnya berkecil hati. Justru semakin semangat belajar dan mengukir prestasi. “Ini di luar dugaan kami,” ujar Imam.
Dia berharap, Nur Nadhifatus mampu mengukir banyak prestasi sehingga kelak apa yang ia cita-citakan tercapai. Paling penting terus belajar. “Sepintar-pintarnya orang, kalau malas belajar tidak mungkin bisa sukses,” katanya. Pesan ini juga ditujukan untuk seluruh siswa SMPN 5 Panji. Imam Sujoko berharap siswanya selalu optimis dalam mengukir prestasi akademik dan non akademik.
Olimpiade sains IPA yang diadakan oleh MKKS ini menjadi wadah untuk Nur Nadhifatus hingga dapat mewakili Kabupaten Situbondo di tingkat provinsi. Tentunya setelah melalui seleksi tingkat Kabupaten Situbondo. Melalui ajang ini juga SMPN 5 Panji dapat membuktikan bahwa kualitas yang dimiliki juga mampu bersaing.  

Kamis, 16 April 2020

Budaya

PUISI 



Tampungan Ampunan 
Oleh : Daisy Restu Rosalina Al Muslimah 


Laa takhof
Seperti peluru yang menembus
Tepat di bidikan tertuju
Perih pedih
Seperti terluka, hatiku melepuh
Lebam menghitam

Laa tahzan
Engkau Maha Pengampun sedang aku pendosa
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah tak bernilai
Engkau Maha Kaya sedang aku tak punya apa-apa

Yaa Mujiib..
Aku haus
Hatiku kering kerontang
Ampunan ingin kutampung

Bergetar rasa hati mendengar surat cinta-Mu
 Ayat-Mu mengalir bagai air jernih dalam keruhnya hati

Hendak menangis,
 sedang airnya telah habis terkikis dosa



CERITA PENDEK 
Pucuk Cemara
Oleh : Daisy Restu Rosalina Al Muslimah

Sinar mentari mencuri kesempatan melalui celah jendela kamar memberi aba-aba pada seorang gadis untuk segera bangun dari tidurnya. Pelukan sinar pagi dilihatnya samar-samar dari bawah selimut bermotif bintang kecil. Dinding kamar berwarna kuning turut serta menghangatkan pagi ini. Zaheera melirik sedikit pada penunjuk waktu di dekat tempat tidurnya. Jarum panjang berada tepat di puncak, sedang ekornya berada di angka enam. Mata bulat Zaheera terlihat lebih sipit pagi ini. Bulu matanya yang lentik meninggalkan jejak air mata semalam. Sisa nafas sesenggukan semalam pun masih terasa di dadanya.
Hari ini hari libur. Zaheera tidak perlu pergi pagi hari dengan pakaian putih birunya. Suasana kamar begitu tenang, pikirannya saja yang tak mau berdiam diri sejenak. Diambilnya segelas air di meja kecil persis di samping tempat tidur. Sedikit membuat pikiran tenang. Tanpa banyak berdiam lagi, ia pergi ke kamar mandi. Diambilnya kaos merah muda dan rok jin panjang berwarna hitam lengakap dengan kerudung mungilnya. Pikirannya mengontrol langkah kakinya keluar kamar. “Kreek” dibukanya pintu kamar. Dipandangnya lekat-lekat suasana rumah yang membisu. Ruang tamu di bawah tangga tak sebising semalam. Kakinya mulai menuruni anak tangga pertama.
“Kak, mau kemana?” suara Najwa menghentikan langkah kedua Zaheera.
“Taman,” jawabnya singkat. Ia melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga berikutnya, menuju taman di belakang rumah.
Gesekan besi ayunan satu-satunya suara yang terdengar oleh indra Zaheera. Menemani lamunannya  yang tak bertepi. Bulu matanya memang tak lagi basah karena air mata tetapi hatinya masih luka. Pikirannya kacau. Pandangannya payau.
Suara ponsel di kantong Zaheera membuyarkan lamunannya.
“Assalamu’alaikum, Ra?” suara Dini menyapa dari balik ponsel.
“Wa’alaikumussalam,” sahut Zaheera.
“Kamu dimana Ra? Nggak mau ikut gowes sama aku dan Cahaya?”
Nggak, Din. Aku pengin sendiri.” Zaheera memutus panggilan.
Suara kebisingan semalam tidak hanya memekakkan telinga pendengarnya tetapi juga membuat hati penghuninya patah. Hati remaja seperti Zaheera sudah berkali-kali patah karena peristiwa serupa. Ini bukan kali pertama malam penuh ketegangan itu terjadi. Seperti arena tinju saja padahal itu rumah mewah. Ayah dan bunda Zaheera membuat hatinya luka. Pertengkaran rumah tangga selalu dipertontonkan oleh ayah dan bunda di hadapan Zaheera, Najwa, dan juga Fahmi.  Selalu ada saja masalah yang diperdebatkan hingga akhirnya menyulap rumah bagai arena tinju. Persoalan yang tak pernah Zaheera mengerti akar masalahnya, begitupun Najwa, apalagi Fahmi yang masih berseragam putih merah.
Tiba-tiba pikiran Zaheera tertuju pada dua adiknya, mereka juga merasakan hal yang sama dengan Zaheera. Luka, sakit, dan bosan. Langkah Zaheera menuju kamar Fahmi. Dilihatnya dari celah pintu, Fahmi sedang bermain game bersama Najwa. Zaheera membuka pintu kamar.
“Dek, nggak lapar?” tanya Zaheera.
“Lapar, kak,” sahutnya.
Jari-jari Fahmi asik menari di atas stick game. Najwa tak menjawab, pikirannya terfokus pada layar di hadapannya.
“Kakak ambil makanan dulu di dapur ya,”
Zaheera bergegas menuruni anak tangga rumahnya menuju dapur.
“Mbok, bunda belum pulang?”
Durung, mbak.”
“Ayah?” timpalnya.
“Sudah mulai semalam ayah Mbak e belum pulang.” Mbok meletakkan sepiring udang goreng di atas meja makan. “Mbak Zaheera mau makan?” tanyanya.
“Iya mbok. Fahmi sama Najwa juga.”
“Mbok ambilkan ya mbak.”
Zaheera mengangguk.
“Makasih ya, mbok.”
Inggih, mbak.” Mbok memberikan nampan berisi tiga piring nasi dan tiga gelas air.
Zaheera menuju kamar membawa nampan. Ini memang bukan kali pertama ayah dan bundanya meninggalkan Zaheera dan kedua adiknya di rumah bersama mbok. Setiap kali pertengkaran terjadi diantara ayah dan bundanya, selalu saja mereka pergi tanpa pamit. Hanya ada mbok di rumah yang menemani Zaheera dan kedua adiknya. Terkadang hati lembut Zaheera juga tidak mampu menahan amarah kepada ayah dan bunda. Tapi lagi-lagi hanya air mata yang dapat mencurahkan isi hatinya. Ia sadar posisinya di rumah sebagai anak sulung, tidak baik memperlihatkan kesedihan di hadapan adiknya.
“Ayo makan Na, Fah,” ajak Zaheera.
“Siap, kak,” sahut Fahmi.
Mereka makan bersama di kamar berukuran 5x6 berdinding lukisan ironman. Tiga buah piring berisi nasi dengan lauk udang goreng dan saus tomat serta tiga gelas air putih menjadi sarapan tiga orang anak pemilik perusahaan makanan cepat saji.
                                                            ***                                         
Empat tiga puluh. Matahari tersipu malu menampakkan batang hidungnya. Zaheera tak pernah ketinggalan menunaikan solat subuh sebelum pagi datang sempurna. Lantunan tilawah qur’an terdengar beriringan dengan isak tangisnya. Dilihatnya kamar ayah dan bunda, tak ada seorang pun. Mereka belum pulang. Hari ini bukan lagi hari libur, dirinya dan kedua adiknya harus pergi sekolah tepat pukul enam tiga puluh pagi. Zaheera melipir menuju dapur. Dilihatnya Mbok sibuk berduaan dengan pemanggang ayam.
“Eh, mbak Zaheera. Ini untuk sarapan mbak dan adik-adik ya.” Mbok sadar akan kehadiran Zaheera.
Zaheera mengangguk. “Mbok, bunda kapan ya pulang?” tanyanya.
“Mbok kurang tahu kalau soal itu, mbak,” sahut si Mbok. Zaheera terdiam.
“Aku ke kamar Najwa dulu ya, mbok,” pungkasnya.
Zaheera menuju kamar Najwa. Dibalik daun pintu terdengar lantunan musik mengalir lembut di telinganya. Berasal dari kamar Najwa.
Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga.
Dibukanya pintu kamar olehnya. Najwa berselimut kain tebal biru muda.
“Na, kenapa belum mandi?” tanyanya.
Najwa bergeming. Menatap kosong layar gawai di dekatnya.
“Na?” ulangnya.
Najwa menggeleng. Didekatkannya ujung tangan Zaheera di badan Najwa.
“Na, kamu sakit?” Pertanyaan Zaheera kali ini tak butuh jawaban pasti Najwa. Suhu tubuh Najwa sudah cukup menjelaskan bahwa adiknya sedang sakit.
“Kamu nggak perlu sekolah dulu hari ini, ya,” sarannya.
“Izinnya?” tanya Najwa.
“Kakak yang izinkan ke wali kelasmu, ya?”
Zaheera keluar menuju dapur. Mengambil air kompres.
Enam tiga puluh pagi. Dilihatnya supir telah siap di dalam mobil hendak mengantar dirinya dan Fahmi. Setiap hari Zaheera dan kedua adiknya selalu diantar-jemput ke sekolah oleh supir. Kali ini hanya Zaheera dan Fahmi.
Sekolah Zaheera dan Fahmi bersebelahan. Berbatas sebuah toko alat tulis kecil dan parkiran sekolah. Sekolah tempat berbeda dengan rumah, Zaheera pun tak mau membawa pikiran kacaunya di rumah ke sekolah. Fokusnya belajar.
“Assalamu’alaikum, Ra.” Dini berjalan mengimbangi Zaheera dari depan gerbang sekolah.
“Wa’alaikumsalam, Din.” jawabnya memaksa senyum.
Mereka berjalan beriringan masuk kelas. Sejam setelah mengikuti pelajaran, bu Anita memanggil Zaheera ke ruang guru. Zaheera pun mengikuti bu Anita berjalan ke ruang guru.
“Zaheera, ibu ingin kamu ikut olimpiade mipa mewakili sekolah. Kamu mau, ya? Ibu yakin kamu bisa,” ujarnya.
Zaheera terdiam.
“Ra? Gimana?”
“Iya bu, insyaAllah.
“Kalau kamu bersedia ikut, besok temui ibu di kantor ya, nduk,”
“Iya, bu,” sahut Zaheera.
Pukul tiga belas tiga puluh. Zaheera menunggu jemputan sopir depan gerbang sekolah. Jam pulang Fahmi satu jam lebih awal daripada Zaheera. Fahmi sudah diantar pulang terlebih dulu.
“Ra, aku duluan ya, assalamu’alaikum.” Dini sudah dijemput lebih dulu oleh ayahnya. Tidak dengan kendaraan mewah roda empat. Dini dijemput dengan kendaraan roda dua tua berwarna merah. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Zaheera. Dilihatnya ayah Dini mencium pipi Dini. Dini pun mencium tangan ayahnya. Pemandangan yang sudah lama Zaheera lupakan dalam rumah mewahnya. Ayah yang entah pergi kemana, bunda yang datang hanya untuk memberi uang padanya dan adik-adiknya. Hanya ada mbok dan supir di rumah.
“Aku rindu yaa Allah,” batinnya. Tanpa sadar, matanya telah berkaca-kaca, siap meluncurkan butiran air lambang kesedihan.
Beberapa menit Zaheera termenung. Didengarnya suara klakson mobil yang tak asing di telinganya. Pak sopir datang menjemputnya. Sepanjang jalan menuju rumah, terpikir selalu ayah dan bunda. Menahan butir air agar tak ada satupun yang lolos.
                                                            ***
Petang menguasai istana langit. Bulan bertahta membulat sempurna. Zaheera berbaring di kasur empuknya. Didengarnya lantunan lagu yang menenangkan sekaligus membuka jendela pikirannya.  
Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga. Selamat pagi, Emak. Selamat pagi, Abah. Mentari hari ini berseri indah. Terima kasih, Emak. Terima kasih, Abah.

 Kali ini air matanya tak dapat ia tahan. Satu lolos. Dua lolos. Banyak lagi yang lolos. Mungkin keluarga Zaheera bukanlah keluarga hangat dan harmonis seperti yang ada dalam setiap bait lagu yang didengarnya. Bukan keluarga cemara, tetapi pucuk cemara. Sudah diujung tanduk. Zaheera tahu harta dan rumah mewah yang ia miliki bukanlah hal pantas untuk ia banggakan. Harta yang paling berharga memang benar keluarga. Bukan rumah mewah sebagai istana, namun istana yang paling indah adalah keluarga.